Rumah Kopi Sunyi mungkin kini sudah mulai banyak dikenal masyarakat sejak berdiri pada tahun 2019 lalu. Namun, tahukah ternyata ide pembuatan coffee shop yang semua pekerjanya dari difabel ini ternyata sudah ada sejak tahun 2016. Kedai kopi yang didirikan lima sekawan, Mario Gultom, Almas Nizar, Yo Renno Widjaja, Fernaldo Garcia, dan Irfan Alvianto, ini juga menyediakan tempat yang terakses bagi pengunjung penyandang disabilitas.
“ Sunyi kopi itu sebenarnya idenya tuh dari tahun 2016, saya sudah kepikiran ide dimana menjalankan passion saya, yaitu di bidang humanity. Saya memang waktu itu drop ya saat umur 17 tahun dan akhirnya dan akhirnya saya mencari passion baru, Bisnis, dan ternyata bisnis dan humanity itu bisa loh digabung. 2016 tuh idenya muncul, oke saya mau bikin konsep sunti, tapi saat itu memang saya baru lulus kuliah, gak punya modal gak punya pengalaman, jadi gak bisa bangun bisnis Sunyi ini. Sehingga saya harus kerja dulu nabung, baru 2019 bersama teman- teman saya. Akhirnya kita bisa bangun Sunyi. Jadi 2019 April Sunyi berdiri.” Kata Faunder Sunyi Kopi
Mario Gultom, penggagas Kopi Sunyi, menyebut kesulitan sejak awal mau membuka coffee shop ini. Misalnya mencari contoh buat social-entrepreneur, bahkan ide yang ia bikin dibilang berlebihan dan Indonesia belum siap menerimanya. Juga dalam menjalankan bisnis kopi untuk penyandang disabilitas sempat terjadi kesulitan, Mulai dari awal berdirinya Sunyi Coffee House mempekerjakan empat karyawan dari penyandang disabilitas tuli dan dua disabilitas.
“ Aku senang bisa bekerja di sini, Sebab aku bisa cari-cari pengalaman baru, aku dapat ilmu baru, Lalu di sini aku senang juga, Karena teman-teman tuli bisa menambah kemampuan yang bagus, aku kerja di sini bisa tambah- tambah tabungan di kehidupan Jakarta. Di sunyi di sini bisa menerima kerja teman-teman tuli dan disabilitas dan di sini tidak ada diskriminasi. kita diperbolehkan untuk menunjukkan kemampuan dalam diri kita. Tempat sunyi sudah setara tapi aku berharap lagi tempat-tempat lain bisa setara, sebab tuli disabilitas dan dengar itu setara, dan aku berharap sekali perusahaan-perusahaan yang menerima kita selain di sunyi. ” Kata pegawai Sunyi Coffee
Pelayanan yang juga tidak boleh dilewatkan dari Sunyi Coffee House adalah tempat belajar bahasa isyarat yang diadakan setiap akhir bulan. Bahkan salah satu karyawan Sunyi Coffee House mampu mengajarkan bahasa isyarat khusus bagi penyandang disabilitas netra dan tuli (deaf - blind). Namun tak membuatnya untuk terus berusaha. Ia lalu mempelajari bahasa isyarat, braille, sampai ngumpul bareng difabel. Dari sana, Mario mulai melibatkan teman difabel, dari menu sampai desain interior. Terdapat lantai pemandu dari luar kedai menuju ke meja pembayaran dan pemesanan.
“Aku pertamanya tahu dari Kakak aku karena dulu dia sering ke sini buat ngerjain tugas terus katanya enak cafenya soalnya suasananya sepi terus juga tempatnya nyaman Aku pertamanya gugup mau pesan acaranya kayak gimana Terus aku bingung tapi temen aku udah belajar jadi bisa, Aku pengen coba belajar bahasa isyarat karena seru gitu caranya dan Aku kagum melihat mereka dan Kakaknya juga ramah- ramah.” Kata pengunjung Sunyi Coffee

.jpeg)
.jpeg)